Ketika bicara tentang sinema kontroversial yang mengubah lanskap perfilman dunia, Last Tango in Paris (1972) karya sutradara visioner Bernardo Bertolucci pasti masuk dalam daftar teratas. Film ini bukan sekadar tontonan biasa, melainkan sebuah perjalanan emosional yang gelap, liar, dan provokatif. Dibintangi oleh legenda Hollywood Marlon Brando dan aktris muda Perancis Maria Schneider, film ini mengeksplorasi kesedihan, gairah, dan kekuasaan dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.
Setelah sukses besar lewat The Godfather (1972), Brando mengambil risiko besar dengan membintangi film ini. Penampilannya sebagai Paul dinilai sangat mentah, emosional, dan mencerminkan rasa frustrasi yang nyata. Banyak kritikus menganggap peran ini sebagai salah satu akting terbaik sepanjang karier Brando, yang bahkan membuahkan nominasi Academy Award (Oscar) untuk Aktor Terbaik. Estetika Sinematografi Vittorio Storaro
Bagi Paul, hubungan ini adalah pelarian destruktif dari rasa sakit dan kemarahan atas kematian istrinya. Bagi Jeanne, ini adalah eksplorasi seksualitas yang berbahaya di luar kehidupan pernikahannya yang konvensional dan membosankan. Namun, seiring berjalannya waktu, batas-batas anonimitas yang dibuat Paul mulai runtuh, membawa hubungan mereka menuju akhir yang tragis dan penuh obsesi. Mengapa Film Ini Begitu Fenomenal? Akting Totalitas Marlon Brando
: The movie is available on Blu-ray through retailers like Amazon and Barnes & Noble . 📝 Movie Overview Amazon Prime Video Nonton Last Tango In Paris -1972-
Jeanne, often misread as merely a victim, is the film’s true radical. She seeks experience over romance, power within submission. Her ultimate rejection of Paul—shooting him with his father’s pistol—is not a crime of passion but a declaration of autonomy. In the final scene, she whispers a lie to the police (“He tried to rape me… I don’t know his name”), erasing Paul entirely. The tragedy is not his death, but her realization that their entire affair was a performance he wrote and she survived.
Searching for is like searching for a car crash. You know it will be ugly, but you cannot look away.
Catatan: Pastikan Anda telah berusia 21 tahun ke atas sebelum memutuskan untuk menonton film ini karena klasifikasi kontennya yang khusus dewasa. Setelah sukses besar lewat The Godfather (1972), Brando
Pertemuan kebetulan di sebuah apartemen kosong yang ingin mereka sewakan berubah menjadi hubungan rahasia yang didasarkan pada satu aturan utama: anonimitas. Paul bersikeras bahwa mereka tidak boleh saling mengetahui nama, latar belakang, atau kehidupan pribadi. Bagi Paul, hubungan ini adalah pelarian dari duka; sebuah ruang aman untuk menyalurkan amarah, rasa sakit, dan kebrutalannya melalui seks tanpa komitmen.
Film ini menangkap atmosfer Paris tahun 70-an yang kelam, artistik, dan realistis. Kontroversi Terbesar: Di Balik Layar
Mereka memulai hubungan seksual anonim yang intens di apartemen tersebut, dengan satu aturan: Hubungan ini menjadi tempat pelarian Paul dari realitas dan bagi Jeanne, sebuah petualangan berbahaya. Mengapa "Last Tango in Paris" (1972) Masih Wajib Ditonton? 1. Performa Akting Marlon Brando yang Legendaris Maria Schneider (Jeanne) Cinematographer: Vittorio Storaro
Film ini juga menyentuh tema-tema berat seperti bunuh diri, depresi, dan disfungsi seksual. Jika Anda memiliki trauma terkait pelecehan seksual, sebaiknya pertimbangkan kembali untuk menonton film ini atau setidaknya persiapkan diri Anda secara mental. Bagi yang tertarik dengan sinema klasik yang provokatif dari perspektif akademis atau sejarah, film ini tetap menjadi bahan kajian yang menarik meskipun problematik.
Poor Maria Schneider. She was only 19 years old. She was promised a role by Bertolucci as "the girl next door," but she walked into Last Tango completely unprepared for the psychological brutality. Her performance is not "acting" in the traditional sense; it is real confusion, real fear, and real rebellion against Brando’s method. When you see Jeanne look lost, it is because Maria was lost. Her wide eyes are not a character choice; they are the genuine reaction of a teenager trapped between two powerful male egos (Brando and Bertolucci). Understanding her tragic real-life story (she later denounced the film and struggled with addiction for decades) changes the entire viewing experience.
Below is a concise, analytical essay on the film, focusing on its themes, controversy, and legacy.
One of the most notorious aspects of "Last Tango in Paris" is the infamous "butter scene," in which Paul uses butter as a lubricant to facilitate anal sex with Jeanne. This graphic and unsettling sequence has been the subject of much debate, with some critics accusing Bertolucci of misogyny, exploitation, and even pornography.
It stands as a testament to the 1970s "New Wave" sensibility—unflinching, provocative, and deeply interested in the darker corners of the human psyche. Key Facts for Citation Director: Bernardo Bertolucci Starring: Marlon Brando (Paul), Maria Schneider (Jeanne) Cinematographer: Vittorio Storaro
Copyright © 1999/2025 Radio Sound S.r.l. - Tutti i diritti riservati Sede legale: Strada della Mola, 60 - Piacenza C.F./P.IVA e iscrizione Registro Imprese Piacenza n° 00799580337 c.c.i.a.a. Piacenza n. r.e.a. 108530 - Capitale sociale - € 50.000,00 i.v. Licenza SIAE N. 03701 - SCF 862/03 Testata giornalistica: Radio Sound Piacenza, registrazione al Tribunale di Piacenza n° 293 - decreto di iscrizione del 19/06/1978 Quotidiano Radiofonico dal 1978 - Quotidiano OnLine dal 2005. Privacy Policy, Termini e condizioni e contributi 2022 ricevuti.